pemanfaatan potensi sumber daya alam laut dapat memberikan kontribusi bagi
denganDinas Perikanan dan Kelautan Cilacap diharapkan mampu memberikan kontribusi dan bantuan lebih kepada para nelayan agar mereka bisa lebih berdaya guna sehingga mampu memanfaatkan potensi sumber daya perairan Cilacap secara maksiman, demi sebesar-besar kemakmuran nelayan. Semoga.
Potensiekonomi sektor kelautan Indonesia diperkirakan mampu mencapai USD1,2 triliun per tahun dengan penyerapan tenaga kerja berpotensi mencapai 40 juta orang. Tentu, untuk mendukung program ekonomi biru ini terdapat potensi-potensi di kelautan Indonesia yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Potensi pengembangan ekonomi di sektor
PotensiSumber Daya Kelautan dan Perikanan WPPNRI 716 Amurang. Selanjutnya dijelaskan juga pola arus permukaan yang bergerak dari Laut Sulawesi menuju Selat Makassar, namun ada sebagian kecil yang kemudian berubah menjadi arus pusaran (Eddy current) tepat di pesisir Toli-Toli, sehingga menimbulkan umbalan (upwelling). Dalam hal ini tidak
Sumberdaya laut. 5. Sumber daya mineral. Sumber daya alam berdasarkan ketersediaannya dapat dikelompokkan. ke dalam dua kelompok, yaitu sebagai berikut. 1. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui atau sumber daya. alam yang akan habis dipakai ( ), mencakup. sumber daya energi dan mineral. 2. Sumber daya alam yang dapat diperbarui atau
Memberikankontribusi dalam mengembangkan dan menerapkan ilmu kimia bagi kesejahteraan masyarakat melalui penelitian unggulan yang berbasis pada potensi pada potensi sumber daya alam pesisir, kelautan dan pedesaan yang berorientasi pada publikasi nasional, internasional dan perolehan HAKI
Site De Rencontre Gratuit Et Non Payant. Rilis Artikel ini sebelumnya sudah dipublikasikan di Artikel dicuplik dan dilakukan editing berdasarkan persetujuan Prof. Zuzy Anna.* [Foto ilustrasi] Pantai Ujung Genteng. Foto Dadan Triawan* [ 31/8/2020] Indonesia punya potensi ekonomi kelautan yang sangat melimpah. Hal ini didasarkan pada data Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP tahun 2020 memperkirakan potensi ini bisa mencapai US$ 1338 miliar atau Rp19,6 triliun per tahun. Namun, sudahkah potensi ini dimanfaatkan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia? “Permasalahannya adalah bahwa potensi luar biasa ini belum bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia secara optimal,” ungkap Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Zuzy Anna. Publikasi PDB Maritim Indonesia 2010-2016 yang dikeluarkan Kementerian Koordinator Maritim dan Biro Pusat Statistik menunjukkan, kontribusi sektor kelautan di Indonesia terhadap ekonomi bangsa masih jauh dari harapan, yaitu hanya sekitar 6% dari Produk Domestik Bruto Indonesia pada tahun 2018. baca juga Gerak Manusia Dibatasi Saat Pandemi, Laut Indonesia Perlahan Memulihkan Diri Namun, secara perlahan, hampir seluruh provinsi di Indonesia memiliki rencana pengelolaan kawasan laut mereka tata ruang laut atau nama resminya, Rencana Zonasi Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil RZWP3 sejak tahun 2014. Prof. Zuzy menjelaskan, dokumen ini digunakan untuk memetakan pemanfaatan sumber daya kelautan secara berkelanjutan, setidaknya selama 20 tahun mendatang. “Bukan tidak mungkin, sektor kelautan memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu penopang ekonomi negeri ini di masa depan,” tuturnya. Menurut Guru Besar bidang Ilmu Ekonomi Sumber Daya Perikanan ini, ada beberapa potensi tersembunyi dari kelautan Indonesia yang bisa dikembangkan secara ekonomi, antara lain kawasan konservasi perairan, pariwisata, dan kekayaan arkeologi. baca juga Laut Masa Depan Indonesia Kawasan Konservasi Perairan Di sektor kawasan konservasi perairan, Indonesia sudah menetapkan lebih dari 20 juta hektare kawasan konservasi perairan Marine Protected Areas pada tahun 2020. Awalnya, proses penetapan kawasan konservasi laut di Indonesia dianggap hanya mengeluarkan biaya tanpa ada pemasukan. Namun, pengelolaan kawasan konservasi laut ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Nilai ekonomi ini berasal dari kegiatan pemanfaatan riset yang menggali potensi kelautan dan perikanan bagi manusia. “Konservasi laut juga memberikan nilai ekonomi dalam bentuk kelebihan spill over sumber daya ikan yang dapat dimanfaatkan nelayan di luar kawasan konservasi,” terangnya. Pemanfaatan ekowisata di kawasan konservasi perairan juga akan mendatangkan keuntungan ekonomi dalam bentuk pemasukan daerah melalui kunjungan turis lokal maupun mancanegara. Ditambah lagi, konsep ekosistem yang menjaga keseimbangan ekosistem akan membantu upaya perlindungan alam. baca juga Potensi Dasar Laut Sekitar Indonesia Belum Diperhatikan Lalu, kekayaan keanekaragaman hayati yang bermanfaat untuk bahan baku obat-obatan, kosmetika, hingga pangan juga memiliki nilai ekonomi. Kekayaan lainnya adalah, laut menyimpan sejumlah energi terbarukan maupun tidak terbarukan. Sumber daya energi terbarukan yang bisa diberdayakan seperti panas air laut, gelombang laut, hingga arus laut. Sementara sumber daya energi tidak terbarukan terdapat di dasar laut, seperti minyak dan gas bumi. Sayangnya, potensi ini sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan. Belum adanya kemauan politik yang kuat, baik pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya, untuk mau terjun dalam mengembangkan potensi sumber daya energi ini. Pariwisata baca juga Potensi Kelautan Sangat Melimpah, Ayo Majukan Industri Perikanan Indonesia Prof. Zuzy mengatakan, pariwisata bahari bagaikan raksasa tidur yang mesti dibangunkan. Sektor ini menjadi daya tarik Indonesia. “Sektor ini berpotensi menjadi sumber devisa yang sangat signifikan setelah minyak bumi. Selain itu, wisata bahari juga menjadi sumber pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja,” ujarnya. Publikasi PDB Maritim Indonesia 2010-2016. menyebutkan bahwa pencapaian tertinggi wisata bahari menyumbang pada tahun 2015. Pemerintah Indonesia sendiri memiliki target untuk meningkatkan angka ini hingga 2 kali lipat atau setara dengan kedatangan 20 juta wisatawan mulai tahun 2019. Pariwisata bahari merupakan kegiatan yang melibatkan pengetahuan interdisiplin seperti pariwisata, ilmu kelautan, geografi, ilmu sosial, psikologi, ilmu lingkungan, ekonomi, pemasaran dengan berbagai isu manajemen laut. Untuk mengembangkan pariwisata bahari memerlukan perencanaan dan pengembangan yang terintegrasi, antarsektor, antarwilayah, dan antardisiplin ilmu. Meski pandemi Covid-19 melanda, sektor ini tetap akan menjanjikan dalam jangka panjang sehingga pemerintah harus terus-menerus mengembangkannya. Kekayaan Arkeologi Potensi laut yang selama ini luput dari perhatian adalah kekayaan arkeologi. Sektor ini bak harta karun yang terpendam di wilayah laut Indonesia. baca juga Laut Indonesia Miliki “Harta Karun” Berlimpah Prof. Zuzy menjelaskan, kekayaan arkeologi ini berasal dari kapal karam di masa lalu yang membawa berbagai barang berharga seperti koin mas, dan barang-barang antik. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2000 menyebutkan ada 463 lokasi kapal tenggelam shipwrecks yang tersebar di perairan Indonesia. Dari sisi ekonomi, lokasi kapal tenggelam ternyata memiliki potensi ekonomi antara antara US$80,000 Rp1,1 miliar hingga US$18 juta Rp264 miliar. Selain nilai ekonominya, harta karun tersebut juga bisa menjadi tujuan pariwisata yang bisa menghasilkan antara US$800 Rp11,7 juta hingga US$126 ribu Rp1,8 miliar per bulan per lokasi. Contohnya, wisata menyelam di desa Tulamben, kabupaten Karangasem, Bali, untuk melihat kerangka kapal USAT Liberty, sebuah kapal kargo milik Amerika Serikat yang tenggelam saat Perang Dunia II, tahun 1942. Kebijakan Pendukung Untuk mengoptimalkan potensi dan kesempatan sektor kelautan Indonesia, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan pendukung. Pembangunan infastruktur laut dan mengeluarkan kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan merupakan beberapa kebijakan yang bisa dilakukan. baca juga Tata Ruang Laut Jadi Salah Satu Strategi Pembangunan Perikanan dan Kelautan Indonesia Dari segi infrastruktur, Indonesia sudah mulai membangun tol laut sejak tahun 2015. Tol laut merupakan sistem transportasi antarpulau menggunakan kapal-kapal besar untuk distribusi logistik. Sistem ini penting bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Selain membangun tol laut, pemerintah juga perlu meningkatkan kapasitas armada penangkapan ikan Indonesia, terutama ukuran kapal di atas 10 gross tonnage GT. Hingga kini, kemampuan armada penangkapan ikan Indonesia masih didominasi oleh kapal ukuran kecil dan perikanan skala kecil yang lebih banyak beroperasi di perairan pesisir sampai dengan 12 mil. Ini menyebabkan kondisi kekosongan armada di perairan kita, terutama di perairan ZEE Kawasan Ekonomi Khusus, 200 mil dari pulau terluar. “Konsekuensinya, banyak kapal-kapal asing tidak berizin yang mencuri sumber daya ikan Indonesia atau illegal fishing,” kata Prof. Zuzy. Selanjutnya, pengelolaan kawasan laut Indonesia pada dasarnya dapat dioptimalkan dengan menggunakan kerangka ekonomi biru blue economy, sebuah konsep tata kelola laut secara berkelanjutan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Konsep pembangunan ekonomi biru ini diadaptasi untuk ekonomi kelautan yang dikenal dengan semboyan “Blue Sky, Blue Ocean” di mana “ekonomi tumbuh, rakyat Sejahtera, tetapi langit dan laut tetap biru”. baca juga Indonesia Kembangkan Potensi Kelautan dan Perikanan dengan Pendekatan Blue Economy Berbagai praktik pengelolaan ekonomi biru, seperti ekowisata, pembayaran jasa lingkungan, penghijauan pesisir dengan menanam mangrove, inovasi produk-produk kelautan skala kecil yang ramah lingkungan, sudah dilakukan di perairan Indonesia. “Harapannya, kita akan dapat membangun ekonomi kelautan yang sehat, efisien, dan berkelanjutan,” ujarnya. Dari segi investasi, sektor kelautan perlu menerapkan sistem yang menguntungkan tanpa merusak lingkungan dengan memadukan modal swasta filantropi atau hibah, publik, dan pemerintah subsidi untuk mendanai proyek pemulihan ekosistem pesisir laut secara berkelanjutan Model investasi ini juga bisa diterapkan dalam membangun infrastuktur laut, seperti pelabuhan, sarana dan prasarana untuk energi laut terbarukan, hingga riset. Terakhir, tentu saja kebijakan yang dikeluarkan harus berpihak pada sektor akar rumput. Industri kecil dan menengah di sektor kelautan, terutama di wilayah Indonesia bagian timur yang memiliki potensi kelautan yang tinggi, harus dirangkul dengan baik oleh pemerintah. Kebijakan yang dimaksud adalah kebijakan terkait pembangunan infrastruktur pelabuhan, tempat pelelangan ikan TPI, hingga unit pendingin di kawasan timur Indonesia. Daerah timur Indonesia juga membutuhkan perhatian lebih karena menyumbang hampir 40% dari total hasil ikan laut di Indonesia, meskipun aktivitas ekonomi di sana hanya bernilai kurang dari 9% dari total aktivitas ekonomi nasional.arm*
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. sumber gambar Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar pulau dengan panjang garis pantai kurang lebih km. Di sepanjang garis pantai ini terdapat berbagai potensi sumber daya alam seperti perikanan, perkebunan, pertambangan dsb. Potensi-potensi tersebut perlu dikelola secara terpadu agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Wilayah pesisir secara ekologis merupakan daerah pertemuan antara ekosistem darat dan laut. Ke arah darat meliputi bagian tanah, baik yang kering maupun yang terendam air laut, dan masih dipengaruhi oleh sifat-sifat fisik laut seperti pasang surut, ombak dan gelombang serta perembesan air perkembangan wilayah pesisir dan sumberdaya laut di Indonesia pada posisi strategis akan menghasilkan keuntungan ekonomi berupa devisa hasil ekspor. Kontribusi yang demikian akan terus berlangsung, apalagi terdapat berbagai aktivitas masyarakat yang tidak sesuai dengan kemampuan dan daya dukung lingkungan, seperti kegiatan perikanan tangkap, budidaya perikanan, dan industri pariwisata yang berbagai aktivitasnya hanya mengejar keuntungan ekonomi semata. Berbagai upaya pemanfaatan harus dilakukan secara terencana dan tepat, agar dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan terutama terakomodasinya kesejahteraan masyarakat pesisir. Total potensi lestari dari sumber daya perikanan laut Indonesia diperkirakan mencapai 6,7 juta ton per tahun, masing-masing 4,4 juta ton di perairan teritorial dan perairan nusantara serta 2,3 ton di perairan ZEE sumber Departemen Kelautan dan Perikanan. Sedangkan di kawasan pesisir, selain kaya akan bahan-bahan tambang dan mineral juga berpotensi bagi pengembangan aktivitas industri, pariwisata, pertanian, permukiman, dan lain sebagainya. Seluruh nilai ekonomi potensi sumberdaya pesisir dan laut mencapai 82 milyar dollar AS per tahun. Namun pada kenyataannya, kinerja pembangunan bidang kelautan dan perikanan belumlah optimal, baik ditinjau dari perspektif pendayagunaan potensi yang ada maupun perpektif pembangunan yang berkelanjutan. Ekosistem pesisir dan lautan yang meliputi sekitar 2/3 dari total wilayah teritorial Indonesia dengan kandungan kekayaan alam yang sangat besar, kegiatan ekonominya baru mampu menyumbangkan + 20,06% dari total Produk Domestik Bruto Rohmin 2001 dalam darajati, 2004. Padahal negara-negara lain yang memiliki wilayah dan potensi kelautan yang jauh lebih kecil dari Indonesia seperti Norwegia, Thailand, Philipina, dan Jepang, kegiatan ekonomi kelautannya perikanan, pertambangan dan energi, pariwisata, perhubungan dan komunikasi, serta industri telah memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap PDB mereka, yaitu berkisar 25-60% per tahun Dahuri et al, 2008. Ini menunjukan bahwa kontribusi kegiatan ekonomi berbasis kelautan masih kecil dibanding dengan potensi dan peranan sumberdaya pesisir dan lautan yang sedemikian besarnya, pencapaian hasil pembangunan berbasis kelautan masih jauh dari ikan secara masif terjadi di seluruh perairan Indonesia. Pemetaan tingkat penangkapan ikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan KKP menunjukkan kebanyakan status eksploitasi ikan demersal, pelagis besar, dan udang telah mencapai titik maksimum. Penangkapan ikan di beberapa wilayah bahkan masuk zona merah karena melebihi ambang batas yang menyebutkan sejak 2011 Menteri Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan keputusan pemanfaatan ikan yang diperbolehkan maximum sustainable yield/MSY sebesar 80% dari potensi lestari. Potensi lestari sendiri merupakan besaran penangkapan ikan yang masih memberi kesempatan bagi ikan untuk melakukan regenerasi sehingga tidak mengurangi 2011 tercatat penangkapan ikan telah melebihi batas, yakni 82%. Angka tersebut belum termasuk tangkapan ilegal yang ditaksir mencapai 25% dari total potensi sehingga akumulasi pemanfaatan ikan mencapai 107%. Kondisi itu menunjukkan penangkapan ikan telah melampaui MSY sehingga berujung pada terancamnya keberlanjutan stok ikan. Padahal Indonesia memiliki potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 6,7 juta ton per tahun tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia ZEEI yang terbagi dalam sembilan wilayah perairan utama Indonesia. Dari seluruh potensi sumber daya tersebut, guna menjaga keberlanjutan stok ikan jumlah tangkapan yang diperbolehkan JTB sebesar 5,12 juta ton per tahun Sekretariat Kabinet, 2016.Volume dan nilai produksi untuk setiap komoditas unggulan perikanan budidaya dari tahun 2010-2014 mengalami kenaikan, terdiri dari 1 Udang mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 14,03%; 2 Kerapu mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 9,61%; 3 Bandeng mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 10,45%; 4 Patin mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 30,73%; 5 Nila mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 19,03%; 6 Ikan Mas mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 14,44%; 7 Lele mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 26,43%; 8 Gurame mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 17,70%; dan 9 Rumput Laut mengalami kenaikan rata-rata per tahun sebesar 27,72%.Untuk mengatasi berbagai permasalahan dan pemanfaatan potensi yang mucul dalam pengelolaan sumberdaya laut ini, maka dibutuhkan suatu model pengelolaan yang memadukan unsur masyarakat pengguna kelompok nelayan, pengusaha perikanan, dll dan pemerintah yang dikenal dengan Comanagement yang menghindari peran dominan yang berlebihan dari satu pihak dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut sehingga pembiasaan aspirasi pada satu pihak dapat dieliminasi. Melalui model ini, pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut dapat dilaksanakan dengan menyatukan lembaga-lembaga terkait terutama masyarakat dan pemerintah dalam setiap proses pengelolaan sumberdaya, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan pengawasan. 1 2 Lihat Money Selengkapnya
Indonesia is an archipelagic country that has enormous potential for coastal and oceanic natural resources. The potential of these natural resources needs to be managed properly so that they can be used optimally for the welfare of the Indonesian people while still paying attention and making efforts to maintain their sustainability. Remote sensing combined with geographic information systems GIS can be used as a technological tool to quickly and accurately obtain information about an object, including objects in coastal and ocean areas. Many data regarding remote sensing of coastal and marine areas, especially areas in Indonesia, have been carried out. The use of remote sensing data and GIS in coastal and marine areas can be used to determine sea surface temperatures, determine fish catch areas, and changes in coastline morphology by adding other influential parameters and can also be used to monitor regional changes using multi-temporal recording data. such as disaster monitoring, monitoring of land cover changes in coastal areas etc. Abstrak Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumber daya alam pesisir dan lautan yang sangat besar. Potensi sumberdaya alam ini perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan bangsa Indonesia dengan tetap memperhatikan dan melakukan usaha untuk menjaga kelestariannya. Penginderaan jauh yang dipadukan dengan sistem informasi geografis SIG dapat digunakan sebagai alat teknologi untuk memperoleh informasi tentang suatu objek secara cepat dan akurat, termasuk objek-objek di wilayah pesisir dan lautan. Data mengenai penginderaan jauh wilayah pesisir dan laut khususnya wilayah di Indonesia telah banyak dilakukan. Penggunaan data penginderaan jauh dan GIS di wilayah pesisir dan laut dapat digunakan untuk menentukan suhu permukaan laut, penentuan daerah tangkapan ikan, dan perubahan morfologi garis pantai dengan menambahkan parameter lain yang berpengaruh dan juga dapat digunakan untuk memantau perubahan wilayah dengan menggunakan data perekaman multi-temporal seperti pemantauan bencana, pemantauan perubahan tutupan lahan di wilayah pesisir dll. Kata kunci Penginderaan Jauh, lautan, Oceanografi A. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan archipelagic state terbesar di dunia yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Jumlah pulau di Indonesia yang resmi tercatat mencapai pulau.PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN DALAM PERSPEKTIF NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Lasabuda Jurnal Ilmiah PLATAX, Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free JURNAL GEOGRAFI Geografi dan Pengajarannya ISSN 1412 - 6982 e-ISSN 2443-3977 Volume XX Nomor XX Bulan Tahun Corespondency address E-mail 1 PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DI BIDANG OSEANOGRAFI Sabrina Azharia Sabitah Faculty of Social Science and Law, State University of Surabaya Jl. Ketintang, Gayungan District, Surabaya City Abstract Indonesia is an archipelagic country that has enormous potential for coastal and oceanic natural resources. The potential of these natural resources needs to be managed properly so that they can be used optimally for the welfare of the Indonesian people while still paying attention and making efforts to maintain their sustainability. Remote sensing combined with geographic information systems GIS can be used as a technological tool to quickly and accurately obtain information about an object, including objects in coastal and ocean areas. Many data regarding remote sensing of coastal and marine areas, especially areas in Indonesia, have been carried out. The use of remote sensing data and GIS in coastal and marine areas can be used to determine sea surface temperatures, determine fish catch areas, and changes in coastline morphology by adding other influential parameters and can also be used to monitor regional changes using multi-temporal recording data. such as disaster monitoring, monitoring of land cover changes in coastal areas etc. Keywords geographic information system, marine, oceanografi Abstrak Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai potensi sumber daya alam pesisir dan lautan yang sangat besar. Potensi sumberdaya alam ini perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan bangsa Indonesia dengan tetap memperhatikan dan melakukan usaha untuk menjaga kelestariannya. Penginderaan jauh yang dipadukan dengan sistem informasi geografis SIG dapat digunakan sebagai alat teknologi untuk memperoleh informasi tentang suatu objek secara cepat dan akurat, termasuk objek-objek di wilayah pesisir dan lautan. Data mengenai penginderaan jauh wilayah pesisir dan laut khususnya wilayah di Indonesia telah banyak dilakukan. Penggunaan data penginderaan jauh dan GIS di wilayah pesisir dan laut dapat digunakan untuk menentukan suhu permukaan laut, penentuan daerah tangkapan ikan, dan perubahan morfologi garis pantai dengan menambahkan parameter lain yang berpengaruh dan juga dapat digunakan untuk memantau perubahan wilayah dengan menggunakan data perekaman multi-temporal seperti pemantauan bencana, pemantauan perubahan tutupan lahan di wilayah pesisir dll. Kata kunci Penginderaan Jauh, lautan, Oceanografi A. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan archipelagic state terbesar di dunia yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis. Jumlah pulau di Indonesia yang resmi tercatat mencapai pulau.PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN DALAM PERSPEKTIF NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Lasabuda Jurnal Ilmiah PLATAX, 2 JURNAL GEOGRAFI, VOLUME XX , NOMOR XX, bulan tahun xx-xx Kepastian jumlah ini ditentukan dalam forum United Nations Conferences on the Standardization of Geographical Names UNCSGN dan United Nations Group of Experts on Geographical Names UNGEGN yang berlangsung pada 7-18 Agustus 2017 di New York, Amerika Serikat. Adapun garis pantai Indonesia sepanjang km2. Luas daratannya mencapai sekitar 2,012 juta km2 dan laut sekitar 5,8 juta km2 75,7%, 2,7 juta kilometer persegi diantaranya termasuk dalam Zona Ekonomi Ekslusif ZEE.View of Analisis Profil Bawah Permukaan Pantai Lumpue Kota Parepare, Laut Indonesia yang luasnya 2,5 kali lipat dari wilayah daratan pastinya memiliki potensi yang sangat besar, baik dari segi kekayaan alam maupun jasa lingkungan yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan ekonomi pada tingkat lokal, regional dan nasional. Negara Kesatuan Republik Indonesia NKRI juga merupakan negara pantai coastal state yang komponen wilayah nasionalnya terdiri atas daratan, lautan perairan dan ruang udara air space. Dua pertiga dari keseluruhan wilayah Indonesia adalah berupa lautan. Indonesia bisa juga disebut sebagai negara kepulauan archipelagic state, dengan bukti pulau tersebut. Kurang lebih 6 juta km2 wilayah Indonesia berupa laut yang sangat mempengaruhi iklim dan cuaca seluruh wilayah. Dipandang dari sifat alami, maka lingkungan laut Indonesia memperlihatkan sifat integral antara antara unsur laut air dan darat tanah.Kurnia et al., 2006 Secara ekologis, hal ini merupakan dasar ilmiah dan alami pula bagi konsep wawasan nusantara sebagai perwujudan kesatuan geografis, yang menjadi dasar kesatuan politis, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan. Terkait dengan archipelagic state, kata archipelago sering diterjemahkan sebagai “kepulauan” yaitu kumpulan pulau yang dipisahkan oleh permukaan air laut. Sesungguhnya ada perbedaan fundamental antara kepulauan dan archipelago. Kepulauan diartikan sebagai kumpulan pulau sedangkan istilah archipelago berasal dari bahasa latin “archipelagus” yang berarti “laut utama”. Makna asli dari kata archipelago bukan merupakan “kumpulan pulau”, tetapi laut di mana terdapat sekumpulan pulau.Putra & Arafat, Konsep archipelagic state menurut lapisan yang dikembangkan Indonesia yang mengacu kepada makna negara kepulauan “harus diganti dengan konsep negara bahari”, yaitu negara laut yang memiliki banyak pulau. Luasnya wilayah laut dan panjangnya garis pantai yang dimiliki serta metode survei pemetaan kelautan yang selama ini masih menggunakan survei lapangan langsung terestrial akan sulit untuk memetakan seluruh Nama akhir penulis, Judul Artikel sebagian.... 3 wilayah Indonesia, sehingga dirasa perlu untuk melakukan terobosan-terobosan terkait dengan pemetaan dibidang laut salah satunya dengan penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis SIG. Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu obyek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan obyek, daerah, atau fenomena yang dikaji Lukiawan et al., 2019. Perkembangan teknologi penginderaan jauh telah memungkinkan ilmuwan untuk dapat mendeteksi daerah-daerah potensial untuk berbagai kebutuhan. Teknologi penginderaan didukung dengan metode pengolahan serta analisis yang teruji akurasinya, merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat dalam mempercepat penyediaan informasi seluruh permukaan bumi tidak terkecuali laut dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Sistem informasi terpadu yang dapat menyimpan dan mengolah serta menyampaikan secara cepat dan mudah dari berbagai sektor adalah Sistem Informasi Geografis SIG. SIG dapat di integrasikan dengan Teknologi Penginderaan Jauh Inderaja yang memiliki kelebihan dalam memberikan data spasial multi resolusi, multi temporal, multi spektral.Sitanggang, Cakupan yang luas dan mampu menjangkau daerah yang terpencil sehingga integrasi keduanya merupakan solusi yang ampuh dalam melakukan pemetaan dalam bidang kelautan. Teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis SIG belum banyak dimanfaatkan terutama untuk bidang kelautan, kecendrungan pemanfaatan data penginderaan jauh dan SIG masih dalam ruang lingkup daratan. Dalam pemanfaatan dan pengelolaan wilayah laut dan pesisir sangat dibutuhkan kualitas data spasial yang baik, luasnya wilayah laut dan panjangnya garis pantai yang dimiliki menimbulkan beberapa masalah yang sering ditemukan, seperti 1. Sumberdaya manusia yang dimiliki baik lembaga dan instansi yang belum memadai, praktis hanya Dinas Hidro-Oceanografi DISHIDROS TNI Angkatan Laut yang memiliki tanggung jawab penuh terhadap pemetaan dibidang kelautan. 2. Luasnya wilayah akan mempengaruhi besarnya biaya yang dibutuhkan utuk pemetaan, hal ini dikarenakan metode yang digunakan selama ini masih dengan cara terestrial atau dengan survei langsung. 3. Luasnya wilayah dan metode survei langsung terestrial yang selama ini digunakan berdampak pada dibutuhkannya waktu yang lebih lama dalam melakukan proses pemetaan dan biaya yang cukup besar. Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan ini antara lain 1 Memberikan 4 JURNAL GEOGRAFI, VOLUME XX , NOMOR XX, bulan tahun xx-xx solusi yang efektif dalam melakukan pemetaan khususnya dalam bidang kelautan; 2 Survei pemetaan secara terestrial yang selama ini dilakukan dirasa tidak efektis mengingat luasnya wilayah laut dan panjangnya garis pantai; dan 3 Melihat kelebihan dan kekurangan antara pemetaan laut secara terestrial dengan pemetaan laut dengan memanfaatkan data penginderaan jauh B. METODE PENELITIAN Data sekunder data yang diperoleh melalui studi literatur berupa Buku untuk mencari teori yang relevan dengan penulisan ini dan jurnal karya ilmiah digunakan untuk mempelajari karya ilmiah yang berkaitan dengan pemanfaatan penginderaan jauh di bidang oseanografi. Adapun data sekunder lainnya untuk mendukung penelitian ini yakni majalah dan internet berupa jurnal online dan berita yang berkaitan dengan pemanfaatan penginderaan jauh di bidang oseanografi. C. HASIL Data penginderaan jauh khususnya data citra satelit memiliki beberapa keunggulan terutama dalam hal cakupan spasial dan kontiniuitas data rekaman yang lebih baik. Data penginderaan jauh ini dibutuhkan perlakuan khusus untuk mengekstraksi informasi yang diinginkan. Perlakuan khusus ini lebih sering disebut dengan teknik pengolahan citra Jauh,2012. Pemanfaatan data penginderaan jauh dan SIG terutama dibidang kelautan telah banyak dikembangkan di negara-negara berkembang, seiring dengan perkembangan tersebut menjadikan tingkat akurasi pemetaan semakin tinggi dan objek-objek kajian semakin bertambah sehingga dimungkinkan untuk memperoleh data dengan cepat dan dengan biaya relatif lebih murah agar dapat digunakan untuk pengelolaan dan pemanfaatan khususnya dibidang kelautan. Berikut beberapa kajian pemanfaatan data penginderaan jauh dan SIG dalam bidang kelautan terutama pada faktor biofisik kelautan Perubahan Garis Pantai Batas air dan daratan dikenal sebagai garis pantai shore lines, garis pantai selalu berubah baik perubahan sementara akibat pasang surut maupun yang permanen akibat pengikisan daratan abrasi dan penambahan daratan akresi. Secara umum tiga hal yang mempengaruhi perubahan garis pantai yaitu gelombang arus, pasang surut dan angin. Indentifikasi perubahan fisik lahan terutama diwilayah pesisir dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan memanfaatkan data citra satelit dengan berbagai macam pilihan resolusi spasial. Perubahan garis pantai merupakan penelitian yang bersifat monitoring fisik lahan di wilayah pesisir dengan membangun citra komposit semu False Color Composite sesuai dengan penonjolan kenampakan yang akan Nama akhir penulis, Judul Artikel sebagian.... 5 diinterpretasi. Interpretasi perubahan garis pantai biasanya dilakukan secara visual dengan melakukan digitasi. Hasil analisis pendigitasian garis pantai pada citra tahun pertama T1 dengan tahun kedua T2 dan tahun berikutnya Tn akan dapat menggambarkan dengan jelas perubahan garis pantai yang terjadi dan dapat diketahui berapa besar perubahan terjadi dalam periode waktu tersebut, dan jenis perubahan yang terjadi dapat berupa akresi dan abrasi. Monitoring perubahan garis pantai yang dilakukan selama ini umumnya dengan tracking GPS, sehingga dibutuhkan waktu yang lebih lama dalam proses pemetaan dan biaya yang lebih besar bila dibandingkan dengan pemenfaatan data penginderaan jauh. Pemanfaatan data penginderaan jauh untuk monitoring peribahan garis pantai dapat dijadikan solusi yang sangat tepat, mengingat panjangnya garis pantai Indonesia. Kedalaman Perairan Bathymetri Data penginderaan jauh juga dapat dimanfaatkan untuk memetakan kedalaman laut bathymetri, tetapi kemampuan pemetaan hanya terbatas sampai pada kemampuan penetrasi dari cahaya matahari untuk menembus perairan ±25 meter dan pada perairan yang jernih. Ketika memasuki tubuh air energi matahari berkurang intensitasnya melemah secara eksponensial dengan semakin bertambahnya kedalaman, tingkat pelemahan energi tersebut dikontrol oleh koefisien pelemahan kolom air yang nilainya bervariasi untuk tiap panjang gelombang. Ada hubungan antara pantulan spektral objek dengan kedalaman perairan, hal ini dikarenakan terjadi serapan pada tubuh air. Misalnya pada objek yang sama tetapi pada kedalaman yang berbeda maka pantulan spektralnya akan berbeda pula. Jika substrat konstan maka perbedaan pantulan menunjukkan efek kedalaman. Kedalaman maksimum yang dapat diindera adalah tergantung DOP Depth of Penetration dari tiap band, dalam hal ini dari beberapa bahan rujukan band biru merupakan saluran yang penetrasinya paling baik terhadap tubuh air. Tiap band punya kedalaman efektif masing-masing, yang nilainya bervariasi tergantung kondisi perairan. Perbedaan DOP Depth of Penetration ini dipengaruhi oleh koefisien pelemahan kolom air k. Dalam pemetakan kedalaman laut bathymetri ada banyak citra yang dapat digunakan dengan ketentuan citra tersebut memiliki panjang gelombang tampak dan inframerah dekat VNIR yaitu masih dalam rentan panjang gelombang 0,4 µm – 0,8 µm. Ada banyak citra yang dapat digunakan untuk pemetaan ini misalnya LANDSAT ETM +, ALOS Advanced Land Observing Satellite, Quickbird, Rapid Eye, dll 3. Suhu Permukaan Laut SPL 6 JURNAL GEOGRAFI, VOLUME XX , NOMOR XX, bulan tahun xx-xx Panjang gelombang inframerah termal pada data penginderaan jauh memungkinkan dilakukannya estimasi suhu permukaan laut. Secara khusus dapat dijelaskan bahwa suhu permukaan laut yang diukur adalah suhu permukaan pada beberapa millimeter di permukaan laut dan bukan suhu kolom air yang berada beberapa centimeter di bawah permukaan laut Penetrasi ke dalam air yang dapat dijangkau oleh panjang gelombang inframerah termal hanya sekitar 10-3 m, sedangkan suhu termometrik berhubungan dengan suhu percampuran air. Frananda, 2017 4. Klorofil-a Pada prinsipnya pangkal dari semua bentuk kehidupan dalam laut, yaitu aktivitas fotosintesis tumbuhan air. Dimana dengan menggunakan bantuan energi cahaya matahari, dapat mengubah senyawa-senyawa anorganik menjadi senyawa organik yang kaya energi dan dapat menjadi sumber makanan bagi semua organisme laut. Diantara semua tumbuhan air, fitoplankton yang mengikat sebagian besar energi matahari, dan menjadi dasar level pertama terbentuknya rantai makanan dalam ekosistem bahari, dan sangat penting keberadaannya bagi semua penghuni habitat Sifat serapan energi oleh air jernih dan air keruh berbeda disebabkan kandungan material baik organik maupun nonorganik pada air. Pada panjang gelombang kurang dari 0,6 µm, air jernih lebih banyak memantulkan energi dan mencapai puncaknya pada saluran biru 0,4-0,5 µm hingga hijau 0,5-0,6 µm. Sedangkan pada air keruh oleh adanya peningkatan konsentrasi klorofil, terjadi perubahan transmisi tenaga yang drastis, dimana terjadi penurunan pantulan energi pada saluran biru secara signifikan dan peningkatan pantulan energi pada saluran hijau oleh adanya konsentrasi klorofil yang memiliki sifat memantulkan gelombang hijau. Frananda, 2017 Potensi sumberdaya perikanan/kelautan sangat erat kaitannya dengan produktivitas primer dari suatu perairan yang dihasilkan oleh fitoplankton. Pigmen fotosintesis yang umum terdapat pada fitoplankton adalah kolorofil-a, sehingga hasil pengukuran klorofil-a digunakan untuk menduga biomassa fitoplankton suatu perairan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan linier antara produktivitas primer dengan kelimpahan plankton. Melalui teknologi penginderaan jauh kelautan, pendugaan diatas dapat dilakukan berdasarkan sifat optik atau bioptik air laut yang dilihat dari keberadaan pigmen-pigmen fitoplankton klorofil-a dan suhu permukaan laut. Klorofil yang berwarna hijau yang pada dasarnya menjadi sumber informasi perikanan laut karena keterkaitannya yang erat dengan produktivitas primer Nama akhir penulis, Judul Artikel sebagian.... 7 perikanan, sehingga dapat disimpulkan dimana terdapat konsentrasi klorofil yang tinggi disitu terdapat juga konsentrasi biota atau ikan laut yang tinggi. Dalam kaitannya dengan inderaja, klorofil merupakan obyek yang mudah dianalisa untuk memprediksi potensi perikanan laut. Karena unsur ini akan menyerap gelombang tampak mata biru dan memantulkan gelombang tampak mata hijau secara kuat, shingga ketika terjadi peningkatan kandungan klorofil, dapat dilihat adanya peningkatan energi yang dipantulkan oleh gelombang tampak mata hijau, dan penurunan pantulan gelombang tampak mata biru yang signifikan Frananda, 2017 5. Kesesuaian Lahan Pemilihan lokasi yang tepat merupakan faktor yang penting dalam menentukan kelayakan pemanfaatan, kesesuaian lahan merupakan penggambaran tingkat kecocokan sebidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu, terkait dengan lingkungan laut pemanfaatan yang sering digunakan adalah untuk budidaya seperti keramba jaring apung, budidaya rumput laut, budidaya mutiara, dll. Beberapa pertimbangan yang yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi budidaya adalah parameter fisik, kimia dan biologi. Jenis variabel kesesuaian lahan yang dapat digunakan dan informasinya dapat diekstraksi dari data penginderaan jauh antara lain a. Kedalaman dan kecerahan perairan Informasi kedalaman maupun kecerahan perairan selalu digunakan dalam menentukan pemilihan lokasi pemenfaatan pada wilayah laut, baik untuk keramba maupun untuk budidaya. Informasi kedalaman dan kecerahan bisa di dapatkan dengan memanfaatkan data penginderaan jauh, seperti yang telah dipaparkan sebelumnya b. Keterlindungan lokasi Keterlindungan lokasi baik dari arus, ombak maupun sedimentasi dari daratan dapat didapat dengan melakukan interpretasi visual data penginderaan jauh. Dalam pemanfaatan wilayah laut untuk kerambah maupun budidaya lain, informasi keterlindungan lokasi sangat penting, lokasi kerambah dan budidaya yang baik biasanya merupakan lokasi yang memiliki arus yang relatif tenang dan terlindung dari ombak dan sedimentasi. Dalam penentuan kesesuaian lahan akan sangat baik bila data penginderaan jauh yang terbatas hanya dapat memberikan informasiinformasi yang bersifat fisik dipadukan dengan data lapangan yang memberikan informasi yang bersifat kimia seperi salinitas, suhu dan pH. Integrasi data fisik dan kimia akan dapat memberikan informasi mengenai tingkat-tingkatan kesesuaian lahan untuk berbagai peruntukan dalam pemanfaatannya. Frananda, 2017 8 JURNAL GEOGRAFI, VOLUME XX , NOMOR XX, bulan tahun xx-xx 6. Ekosistem Pesisir a. Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove adalah salah satu obyek yang bisa di indentifikasi dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Letak Geografi ekosistem mangrove yang berada pada daerah peralihan darat dan laut memberikan efek perekaman yang khas jika dibandingkan obyek vegetasi darat lainnya.Lukiawan et al., 2019 Efek perekaman tersebut sangat erat kaitannya dengan karakteritik spektral ekosistem mangrove, hingga dalam identifikasi memerlukan suatu transformasi tersendiriArizal et al., 2017 b. Ekosistem Lamun dan Terumbu Karang Ekosistem Lamun dan Terumbu Karang dapat diinterpretasi secara visual dan digital dengan menggunakan citra resolusi tinggi sampai citra resolusi menengah.Anon D. KESIMPULAN Dari pemaparan pemanfaatan penginderaan jauh yang diintegrasikan dengan Sistem Informasi Geografis SIG dalam pemetaan dibidang kelautan, dapat ditarik beberapa kesimpulan 1. Pemanfaatan teknologi Penginderaan Jauh dan integrasinya dengan Sistem Informasi Geografis SIG merupakan solusi yang tepat dalam melakukan pemetaan dalam bidang kelautan 2. Luasnya wilayah laut Indonesia dan panjangnya garis pantai yang dimiliki menjadinya pemetaan secara terestrial tidak efektif baik dari segi tenaga, waktu, dan biaya 3. Pemetaan wilayah laut secara terestrial memiliki kelebihan tingkat akurasi yang lebih tinggi, tetapi memerlukan tenaga SDA yang lebih banyak, waktu yang lebih lama dan biaya yang lebih besar bila dibandingkan dengan pemetaan wilayah laut dengan memanfaatkan data penginderaan jauh.Syah & Syah, 2010 DAFTAR PUSTAKA Aini, Miftahurairah Quratun. 2007. Kajian Distribusi Potensi Fitoplankton di Sebagian Laut Utara Jawa Menggunakan Citra MODIS. Skripsi. Fakultas Geografi UGM Yogyakarta Arizal, Suprayogi, A., & Wijaya, A. P. 2017. Jurnal Geodesi Undip Januari 2017 ANALISIS KESEHATAN HUTAN MANGROVE BERDASARKAN Jurnal Geodesi Undip Januari 2017. 6, 277–284. Aronoff S, 1989. Geographic Information Systems A Management Perspective. WDL Publication. Otawa Canada. BAB, I. Geographical Names UNCSGN dan United Nations Group of Experts on Geographical Names UNGEGN yang berlangsung pada 7-18 Agustus 2017 di New York, Amerika Serikat. 2 Adapun garis pantai Indonesia sepanjang km2. 3 Luas daratannya mencapai sekitar 2,012 juta km2 dan laut sekitar 5, 8 juta km2 75, 7%, 2, 7. Nama akhir penulis, Judul Artikel sebagian.... 9 BORU, J. E. 2014. KAJIAN PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN LAYANG JANTI JANTI FLYOVER TERHADAP PERKEMBANGAN TATA RUANG KAWASAN JANTI Studi Kasus kawasan Janti, Desa Caturtunggal, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta Doctoral dissertation, UAJY. Dahuri, R. 2000. Pendayagunaan Sumber Daya Kelautan Untuk Kesejahteraan Rakyat. Kumpulan pemikiran DR. Ir. Rokhmin Dahuri MS. LISPI Jakarta Danoedoro, Projo. 1996. Pengolahan Citra Digital. Fakultas Geografi UGM Yogyakarta Kurnia, M. P., Fakultas, D., & Universitas, H. 2006. Upaya Penanganan Permasalahan Perbatasan Maritim Republik Indonesia Solving Problems of Indonesian Maritime Border . Risalah Hukum, 21, 49–57. Hasyim, B. dan Nia Salma. 1998. Analisis Distribusi Suhu Permukaan Laut dan Kaitannya Dengan Lokasi Penangkapan Ikan dan Laju Pancing Ikan Tuna di Perairan Selatan Bali – Jawa Timur. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-8 MAPIN. Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia. Jakarta, Indonesia. pp 249-256 Lukiawan, R., Purwanto, E. H., & Ayundyahrini, M. 2019. Analisis Pentingnya Standar Koreksi Geometrik Citra Satelit Resolusi Menengah Dan Kebutuhan Manfaat Bagi Pengguna. Jurnal Standardisasi, 211, 45. PEMBANGUNAN WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN DALAM PERSPEKTIF NEGARA KEPULAUAN REPUBLIK INDONESIA Lasabuda Jurnal Ilmiah PLATAX. Retrieved March 27, 2022, from Putra, A., & Arafat, Y. Penyelenggaraan Pembangunan NKRI Menuju Negara Maritim Berdasarkan Prinsip Negara Kepulauan. Sitanggang, G. Ka ] Ian Sistem Penginderaan ] Auh Satelit. 53–69. Syah, A., & Syah, A. F. 2010. PENGINDERAAN JAUH DAN APLIKASINYA DI WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN. Jurnal Kelautan Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 31, 18–28. View of Analisis Profil Bawah Permukaan Pantai Lumpue Kota Parepare. Retrieved March 27, 2022, from ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Lukiawan Endi Hari PurwantoMeilinda Ayundyahrinip> Penginderaan Jauh adalah ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan suatu alat tanpa kontak langsung dengan objek, atau fenomena yang dikaji. Sebelum digunakan untuk data informasi, citra satelit perlu dikoreksi geometrik agar data yang dihasilkan sesuai dengan obyek yang ada di permukaan bumi. Menurut amanah Undang – Undang Nomor 21 tahun 2013 tentang Keantariksaan bahwa perlu adanya metode dan kualitas pengolahan data penginderaan jauh yang meliputi koreksi geometrik dan radiometrik untuk mengolah data primer menjadi data proses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya standar koreksi geometrik citra satelit khususnya resolusi menengah serta untuk mengetahui manfaat data penginderaan jauh bagi stakeholders pengguna. Hasil menunjukkan bahwa responden menganggap penting adanya standar koreksi geometrik, responden mayoritas juga menganggap bahwa data penginderaan jauh bermanfaat bagi perencanaan dan pembangunan wilayah serta pemantauan SDA dan lingkungan. Manfaat penelitian ini adalah dengan diterapkannya standar proses koreksi geometrik diharapkan dapat mengatasi masalah distorsi data penginderaan jauh dan menghasilkan ketelitian, kualitas geometrik yang sesuai standar sehingga menghasilkan data penginderaan jauh yang akurat sesuai dengan obyek yang ada di bumi yang pada akhirnya berguna bagi pengguna khususnya untuk pemantauan sumber daya alam dan pengembangan AronoffThe geographic information system GIS has dramatically changed the rate at which georeferenced data can be produced, updated, and disseminated. It has made the production and analysis of geographic information more efficient, and has changed the way this information is perceived and used. GISes now play an essential role in the management of land resources from the local to the global scale, from municipal planning to natural resource assessment. Provides a concise and practical introduction to the use of GIS technology. General concepts are introduced with examples that show a wide range of applications including agriculture, land use planning, mining exploration, and municipal information management. A chapter is devoted to the fundamentals of remote sensing, which has become a major GIS data source. The procedures and equipment used for data input and output are reviewed. Data quality, data management, and GIS analysis functions are presented and, finally, the process of GIS implementation is examined. -after AuthorAnalisis Distribusi Suhu Permukaan Laut dan Kaitannya Dengan Lokasi Penangkapan Ikan dan Laju Pancing Ikan Tuna di Perairan Selatan Bali -Jawa Timur. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-8 MAPINB HasyimNia DanSalmaHasyim, B. dan Nia Salma. 1998. Analisis Distribusi Suhu Permukaan Laut dan Kaitannya Dengan Lokasi Penangkapan Ikan dan Laju Pancing Ikan Tuna di Perairan Selatan Bali -Jawa Timur. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan Ke-8 MAPIN. Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia. Jakarta, Indonesia. pp 249-256d.. Ka ] Ian Sistem Penginderaan ] Auh SatelitG SitanggangSitanggang, G. Ka ] Ian Sistem Penginderaan ] Auh Satelit. SyahA F SyahPenginderaanDanDan Di Wilayah PesisirLautanSyah, A., & Syah, A. F. 2010. PENGINDERAAN JAUH DAN APLIKASINYA DI WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN. Jurnal Kelautan Indonesian Journal of Marine Science and Technology, 31, 8 View of Analisis Profil Bawah Permukaan Pantai Lumpue Kota Parepare 8 View of Analisis Profil Bawah Permukaan Pantai Lumpue Kota Parepare. Retrieved March 27, 2022, from
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Gunung Salak, salah satu gunung berapi yang terletak di Jawa Barat, Indonesia, menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir dengan proyek geothermal yang sedang berjalan di wilayah tersebut. Proyek ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber daya alam yang terbarukan dan ramah lingkungan, yaitu panas bumi, untuk menghasilkan energi geothermal di Gunung Salak merupakan salah satu proyek energi terbarukan terbesar di Indonesia. Dikelola oleh PT Pertamina Geothermal Energy, proyek ini berfokus pada pengembangan potensi panas bumi yang ada di wilayah Gunung Salak. Salah satu alasan utama memilih Gunung Salak sebagai lokasi proyek geothermal adalah potensi panas bumi yang melimpah di daerah tersebut. Gunung Salak memiliki aktivitas vulkanik yang tinggi, menghasilkan suhu dan tekanan yang memadai untuk menghasilkan energi panas pengembangan proyek geothermal dimulai dengan melakukan eksplorasi dan pemetaan potensi panas bumi di Gunung Salak. Ini melibatkan survei geologi, pengukuran suhu, dan pengeboran sumur eksplorasi untuk menentukan potensi energi panas bumi yang dapat diekstraksi. Setelah potensi panas bumi diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengembangkan sumur produksi di lokasi yang paling menjanjikan. Sumur produksi adalah sumur geothermal utama yang digunakan untuk menghasilkan uap panas bumi yang akan menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Energi panas bumi yang dihasilkan dari sumur produksi dikonversi menjadi energi listrik melalui proses yang disebut siklus Rankine. Siklus Rankine melibatkan pemanasan air hingga menjadi uap, yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin. Setelah melewati turbin, uap panas bumi dikondensasikan kembali menjadi air dan dimasukkan kembali ke dalam sumur produksi untuk proses siklus yang berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa proyek geothermal di Gunung Salak adalah sumber energi yang dapat diperbarui secara satu manfaat besar dari proyek geothermal di Gunung Salak adalah pengurangan emisi gas rumah kaca. Energi panas bumi adalah sumber energi bersih yang menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah daripada pembangkit listrik berbasis fosil. Proyek geothermal di Gunung Salak juga berdampak positif pada pembangunan ekonomi lokal. Selain menciptakan lapangan kerja selama konstruksi dan operasional, proyek ini juga memberikan kontribusi pada pendapatan daerah melalui pembayaran pajak dan royalti kepada proyek geothermal di Gunung Salak juga melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Pertamina Geothermal Energy bekerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk memastikan bahwa kegiatan proyek ini dilakukan dengan memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat manfaat ekonomi, proyek geothermal di Gunung Salak juga berpotensi memberikan manfaat sosial seperti peningkatan infrastruktur dan akses energi yang lebih baik bagi masyarakat sekitar. Energi listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk penerangan dan kebutuhan industri. Keberlanjutan adalah prinsip utama dalam pengembangan proyek geothermal di Gunung Salak. Upaya dilakukan untuk meminimalkan dampak lingkungan selama konstruksi dan operasional, termasuk pengelolaan limbah, pemantauan kualitas udara, dan perlindungan terhadap flora dan fauna setempat. Namun, proyek geothermal di Gunung Salak juga menghadapi tantangan dan risiko. Salah satu tantangan utama adalah kompleksitas teknis dalam mengelola sumur geothermal yang melibatkan tekanan dan suhu tinggi. Selain itu, risiko kerusakan lingkungan juga harus diperhatikan. Untuk mengatasi risiko tersebut, Pertamina Geothermal Energy melibatkan ahli geologi, insinyur, dan lingkungan dalam semua tahap proyek. Langkah-langkah pengendalian risiko juga diimplementasikan, seperti pemantauan secara terus-menerus dan rencana tanggap geothermal di Gunung Salak juga menunjukkan potensi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil impor. Dengan memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di dalam negeri, proyek ini dapat memberikan kontribusi pada keamanan energi nasional. 1 2 Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
- Simak kunci jawaban Tema 1 Kelas 5 SD halaman 145 Buku Tematik, Subtema 3 Pembelajaran 3. Pada artikel ini tersedia kunci jawaban Buku Tematik tersebut yang dapat dijadikan pedoman orang tua untuk mendampingi anak belajar di rumah. Siswa diharapkan mencari jawabannya terlebih dahulu. Setelah itu, gunakan artikel ini untuk mengoreksi hasil pekerjaan siswa. Baca juga Letak Otot Polos Otot Lurik dan Otot Jantung, Jawaban Tema 1 Kelas 5 Halaman 107 Kunci Jawaban Halaman 145 Ayo Mengamati Kondisi geografis Indonesia sebagai negara maritim dan kepulauan menyimpan potensi yang besar dalam berbagai bidang, seperti di bidang ekonomi, sosial, budaya, dan transportasi. Potensi-potensi tersebut dapat menjadi modal yang penting dalam pembangunan nasional guna mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Wilayah Indonesia yang berupa kepulauan, antara pulau satu dengan yang lainnya disatukan oleh laut mengakibatkan bervariasinya potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Masing-masing pulau memiliki karakteristik masing-masing, mulai dari kondisi alam maupun kondisi sosialbudayanya. Variasi dan karakteristik potensi tersebut terlihat dari lengkap dan beragamnya bentang alam dan hasil alamnya, beragamnya suku bangsa yang mengakibatkan beragam pula ada istiadat dan budayanya, serta beragamnya agama, golongan, dan kelompok masyarakatnya. Keberagaman yang disebabkan adanya perbedaan antara pulau satu dengan pulau yang lainnya ini tidaklah menjadi pemecah dan perenggang, namun justru menjadi pemersatu, karena antara yang satu dengan yang lain bisa saling melengkapi. Pengaruh Kondisi Geografis Indonesia sebagai Negara Maritim terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat Kunci Jawaban Buku Tema 1 Kelas 5 Halaman 145 Buku Tematik Tema 1 Kelas 5 SD Kondisi geografis sebagai negara maritim dan kepulauan membawa banyak keuntungan bagi bangsa Indonesia. Wilayah laut Indonesia yang sangat luas telah diakui secara internasional sebagai negara maritim yang ditetapkan dalam UNCLOS pada tahun 1982. Hal ini berarti Bangsa Indonesia diberi kewenangan untuk memanfaatkan potensi sumber daya laut. Cakupan wilayah yang sangat besar dan luas, tentu saja laut Indonesia mengandung keanekaragaman sumber daya alam laut yang sangat potensial, baik hayati maupun non-hayati. Sumber daya alam laut tersebut antara lain ikan, terumbu karang dengan kekayaan biologi yang bernilai ekonomi tinggi, wisata bahari, sumber energi minyak dan gas bumi, bahan mineral, dan juga media transportasi antarpulau. Semua potensi alam tersebut tersedia dalam jumlah yang besar dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Besarnya peluang ekonomi dari pemanfaatan potensi sumber daya laut yang sedemikian besar ini tentunya dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia. Hingga pada akhirnya juga akan memberikan kontribusi bagi kesejahteraan bangsa. Kelompok masyarakat yang bisa merasakan langsung potensi kekayaan sumber daya kelautan ini adalah masyarakat yang berda di pesisir. Banyak jenis pekerjaan yang bisa diusahakan untuk menunjang kehidupan ekonominya. Baca juga Temukan Ide Pokok Masing-masing Paragraf Bacaan Otot Manusia, Tema 1 Kelas 5 Halaman 109 Baca juga Jawaban Buku Tema 1 Kelas 5 Halaman 180 181 182, Macam-macam Kelainan pada Tulang Ayo Berlatih
pemanfaatan potensi sumber daya alam laut dapat memberikan kontribusi bagi